Aku Dan Bangsaku
Pagi ini sudah tiga kali aku nyaris
ditampar oleh ayah. Aku hanya bisa maklum saja menghadapi perilaku ayah, karena
tadi malam ibu bilang bahwa ayah sudah dipecat dari perkebunan karet tempatnya
bekerja selama ini. Waktu kutanya sebabnya ibu hanya bisa menjawab ayah ada
masalah dengan datuk pemilik kebun.
Otakku mulai berpikir keras demi mencari jawaban dari
soal-soal yang Bu Mutiah berikan kemarin. Bagaimanapun juga aku tidak mau mendapat nilai nol dan ditertawakan oleh Jalu.
Apa boleh buat, walaupun takut aku harus memberanikan diri bertanya pada ayah.
Kuhampiri ayah yang sedang mendengarkan siaran radio di ruang tamu.
“
Ayah mata uang Negara kita rupiah atau
ringgit ?” tanyaku pelan.
“
Bodoh !! walaupun di Entikong kita biasa memakai ringgit tapi rupiahlah mata
uang Indonesia” jawabnya marah.
Cepat-cepat kutulis jawaban ayah di
bukuku. Lalu kukumpulkan segenap keberanianku untuk kembali bertanya,
“ Ehm… kalau lagu kebangsaan Negara kita apa
yah?.”
“
Dasar bodoh ! Otak udang! Apa gunanya tiap pagi kau pergi ke sekolah? Dan apa
pula gunanya pemerintah mendatangkan guru dari Jakarta itu, kalau soal mudah
begini saja kau tak mampu?” amuk ayah.
Plak..plak….
kali ini pipiku menjadi sasaran empuk kemarahan ayah aku hanya bisa diam dan
menangis. Tiba-tiba dari radio ayah sayup-sayup
mengalun sebuah lagu yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Satu nusa
Satu bangsa
Satu bahasa kita
Tanah air
Pasti jaya
Untuk selama-lamanya
Indonesia
pusaka
Indonesia
tercint
Nusa
bangsa
Dan
bahasa
Kita
bela bersama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar